Bisnis Online Modal Murah

Bisnis Online Modal Murah
Dapatkan Peluang Balik Modal Paling Cepat

Saham Bakrie

 Saham Grup Bakrie Mulai Beranjak, Mana yang Paling Menarik?


Saham-saham perusahaan terafiliasi Grup Bakrie mulai menjauh dari zona Rp 50 alias zona gocap. Sejumlah saham Grup Bakrie malah sudah menguat puluhan persen sejak permulaan tahun.


Penguatan tertinggi dibeberkan oleh saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang menguat 105,17 % semenjak awal tahun atau secara year-to-date (ytd). Posisi kedua ditempati oleh PT Tenaga Mega Persada Tbk (ENRG) yang menguat 81,37% secara ytd.

Saham Bakrie


Saham pertambangan batubara Grup Bakrie, merupakan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menguat 1,5% sejak awal tahun. Belum lama ini, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga beranjak dari area gocap. 


Saham kontraktor tambang ini beranjak dari area gocap pada 30 Maret 2022.  Kala itu, saham DEWA menguat ke tingkatan Rp 57 setelah bertahun-tahun mengendap di area Rp 50. Dikala ini, saham DEWA berada di tahapan Rp 69.


Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus mengevaluasi terdapat sejumlah elemen yang mendukung kenaikan sejumlah saham Grup Bakrie. Pertama merupakan kenaikan harga komoditas. Rata-rata emiten grup Bakrie merupakan saham commodities related.


Kedua, aksi korporasi yang dilaksanakan oleh emiten. DEWA seumpama, akan mengerjakan penerbitan saham baru atau rights issue sebesar Rp 1,1 triliun. DEWA akan mengaplikasikan dana hasil rights issue untuk pembayaran keharusan keuangan dan modal kerja untuk kegiatan operasional.


BUMI juga aktif merestrukturisasi utang. Kemarin (11/4), emiten batubara ini sudah melaksanakan pembayaran utang ke-17 sebesar US$ 67,8 juta. Jumlah ini mewakili pinjaman pokok sebesar US$ 63,6 juta dan bunga sebesar US$ 4,2 juta untuk Tranche A.


Saham ENRG terdorong kenaikan harga komoditas minyak dan gas serta terdorong sentimen positif pengaruh performa tahun 2021 yang solid.  “Sedangkan BRMS daya kerjanya terdorong kenaikan harga komoditi dan juga adanya manajemen baru yang diharapkan cakap membawa perubahan positif di BRMS,” terang Daniel terhadap Kontan.co.id, Selasa (12/4).


Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai, secara teknikal, saham-saham Grup Bakrie yang sudah beranjak dari zona Rp 50 mempunyai fase uptrend. Cuma saja memang risikonya akan lebih tinggi. Karena, umumnya ada banyak pemodal yang ‘nyangkut’ dan akan berusaha keluar saat harga saham Rp 50 menguat. Tetapi, William menilai hal itu cuma sementara.


“Seandainya penguatan berlanjut, mereka akan kembali membeli saham tersebut sebab estimasi akan adanya perubahan tren, dan fraksi harga Rp 50 memberikan prosentase profit yang besar,” jelas William kepada Kontan.co.id, Selasa (12/4).


Toh, bekas saham gocap bukan berarti akan selamanya berada di tahapan gocap. William menyebut, sudah ada sebagian model saham yang beranjak dari area gocap. Contohnya, saham PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT) yang dulu berada di zona gocap dan kini berada di tahapan Rp 200-an.

PT Centratama Telekomunikasi Indonesia Tbk (CENT)


Berdasarkan William, yang perlu dilihat merupakan seberapa besar respons pasar yang ditandai dengan volume perdagangan harian.  Bila tren masih naik dengan volume perdagangan harian yang tinggi, karenanya tren hal yang demikian masih akan berlanjut untuk rentang waktu yang lebih panjang.


“Maka saham-saham grup Bakrie tersebut masih pantas di-trading-kan jangka pendek cocok dengan situasi secara teknikal dan volume perdagangan harian yang tinggi,” sambung William.


Daniel mengevaluasi, performa emiten Grup Bakrie tahun ini diproyeksi akan membaik. Perbaikan ini seiring dengan kenaikan harga komoditas imbas krisis geopolitik di Ukraina – Rusia. Perbaikan daya kerja juga didorong oleh restrukturisasi utang yang dilaksanakan emiten.”Kerja grup Bakrie diperkirakan akan membaik tahun ini,” tandas dia.


Daniel mengukur, saham BRMS menjadi saham Grup Bakrie yang bisa dicermati. Dia menyarankan saham BRMS dengan target harga Rp 250.

LihatTutupKomentar