Gilak! Saham Bank Syariah Ini Cuan 3.600%, Shopee Siap Masuk?
Saham PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk (BANK) yang baru saja mengganti namanya menjadi PT Bank Aladin Syariah Tbk telah mencatatkan penguatan yang benar-benar signifikan menjadi Rp 3.810/saham, melesat sampai 3.599% atau nyaris 3.600% dari harga penawaran awam saham perdana (initial public offering/IPO) pada 1 Februari 2021, Rp 103/saham.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, saham BANK ditutup menguat 5,83% di posisi Rp 3.810/saham pada perdagangan Kamis kemarin (15/4/2021). Nilai transaksi mencapai Rp 375 miliar dengan volume perdagangan 102 juta saham dan kapitalisasi pasarnya Rp 50,27 triliun.
Pemberi asing mencatatkan beli bersih (net buy) Rp 22,54 miliar di pasar reguler pada Kamis kemarin, dan year to date asing masuk Rp 64,28 miliar.
Secara price to earnings ratio (PER) atau rasio harga kepada laba telah menempuh 650 kali, dengan rasio harga terhadap poin buku (price to book value/PBV) menempuh 84,38 kali.
Informasi terupdate dari BANK yakni rencana masuknya induk usaha Shopee merupakan Sea Ltd. Dalam laporan The Straits Times, media asal Singapura, sumber yang mengenal isu pasar ini menyebutkan Sea sedang mengincar Bank Aladin Syariah untuk menjadi partner online dari buah hati usahanya Shopee.
Sea yang tercatat di bursa Wall Street, NYSE (New York Stock Exchange), dengan kode saham SE ini telah mempunyai PT Bank Kesejahteraan Ekonomi (Bank BKE). Bank ini sekarang telah berubah nama menjadi Bank Seabank Indonesia.
Adapun Bank Aladin Syariah dulunya bernama PT Bank Net Indonesia Syariah. Sebelum diakuisisi PT NTI Global Indonesia, dan PT Berkah Anugerah Kekal, bank ini bernama Bank Maybank Syariah Indonesia.
Per Maret 2021, saham perusahaan dibatasi Bortoli International Ltd 20,01%, Kasai Universal Inc 6.18%, dan NTI Global Inodnesia 60,55%, sisanya publik 13,26%.
CNBC Indonesia mencoba mengkonfirmasi info ini kepada Nurdiaz Alvin Pattisahusiwa, Presiden Komisaris (Independen). Tapi yang bersangkutan mengatakan dirinya belum bisa memberikan pernyataan sah. Alvin dan sebagian direksi lainnya memang masih dalam pelaksanaan fit and proper test dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Alvin nantinya menggantikan Ationo Teguh Basuki yang menjadi komisaris. Alvin sebelumnya menjabat President Director PT Mandiri Manajemen Investasi (November 2017-Maret 2021).
Berdasarkan keterangan resmi manajemen BANK, selalin masuknya Alvin, ada juga tiga mantan petinggi OVO yang menjadi direktur dan tengah menunggu hasil fit and proper test dari OJK.
Ketiganya yaitu Firdila Sari (eks Head of Product OVO) sebagai Direktur Digital Banking, Willy Hambali (eks Chief Product Officer OVO) sebagai Direktur Keuangan dan Taktik, dan Budi Kusmiantoro (mantan Chief Teknologi Officer OVO) sebagai Direktur Teknologi Isu Bank.
Sebelumnya, The Straits Times juga menceritakan Grab mencaplok 4% saham PT Elang Teknologi Mahkota Teknologi Tbk (Emtek) dengan poin Rp 4 triliun ini dengan mekanisme private placement yang digelar Emtek baru-baru ini.
PT Elang Teknologi Mahkota Teknologi Tbk (Emtek)
Pada 5 April, Emtek mengumumkan telah mengatasi penambahan modal tanpa memberikan hak mengorder efek khususnya dahulu (PMTHMETD/private placement) senilai Rp 9,3 triliun, dengan NAVER Corporation, mesin pencari web terbesar di Korea Selatan, dan perusahaan investasi bernama H Holdings Inc menjadi pembeli saham yang mewakili sekitar 8,4% dari modal perusahaan.
"Grab membeli melewati H Holding," ujar Sumber hal yang demikian. Dana ini akan digunakan untuk operasional sehari-hari.
Isu ini menghidupkan kembali info merger DANA dan OVO. DANA ialah dompet digital yang dimiliki oleh Emtek sementara Grab menguasai 39,2% saham OVO.
Sampai saat ini, pihak Presiden Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata belum memberikan reaksi lantas atas isu ini dan potensi merger OVO-DANA.
Kembali ke Bank Aladin, kecuali Alvin dari Grup Mandiri, nama lain yang disorot merupakan Dyota Marsudi sebagai Presiden Direktur dan tengah menunggu fit and proper test OJK.
Dyota merupakan putra dari Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi. Dyota menggantikan posisi Presiden Direktur BANK merupakan Basuki Hidayat.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi
"Kami memandang Aladin sebagai brand yang memenuhi kriteria ramah di kuping publik, gampang diingat, memiliki asosiasi yang positif melainkan tidak eksklusif bagi kalangan tertentu saja," kata Dyota, Presiden Direktur Bank Aladin Syariah yang baru, dalam keterangan resminya.
"Seandainya diamati suku katanya, Aladin memiliki arti yang mendalam. Ala berarti dengan atau di atas. Walaupun Din berarti way of life atau faith", ujar Dyota
Dyota yang eks Senior Executive Director of Investments di Vertex Ventures, Singapura, itu mengatakan, Aladin diinginkan bisa menjadi representasi merek yang dinamis dan dapat merangkul pelbagai kalangan dengan bermacam-macam latar belakang.
"Pergantian nama ini bukan sekadar progres merubah nama dan logo, namun juga sebuah transformasi diri menjadi bank yang lebih relevan, merangkul dan dekat terhadap masyarakat masa kini melalui pendekatan digitalisasi. Di samping itu, kami juga bersepakat untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk segala nasabah kami" lanjut Dyota.

